Penulisan Ilmiah

Cara Membaca Scope Jurnal Agar Artikel Tidak Salah Tujuan: Panduan Langkah demi Langkah

Banyak artikel ditolak bukan karena kualitasnya buruk, tetapi karena tidak cocok dengan scope jurnal. Panduan langkah demi langkah ini membantu penulis, dosen, peneliti, dan mahasiswa membaca scope jurnal secara sistematis sebelum mengirim naskah.

Tim Editorial Elevate 5 menit baca 16 kali dibaca

Menulis artikel ilmiah yang berkualitas tinggi tetap bisa berakhir dengan penolakan jika naskah dikirim ke jurnal yang salah. Salah satu penyebab paling umum adalah ketidaksesuaian antara isi artikel dan scope jurnal. Masalah ini sering dianggap sepele, padahal dampaknya besar: waktu terbuang, proses review tertunda, dan peluang publikasi mengecil. Artikel ini adalah seri pertama dari lima artikel yang membahas cara membaca scope jurnal. Fokusnya adalah panduan langkah demi langkah yang bisa langsung dipraktikkan sebelum Anda menekan tombol submit.

Mengapa Scope Jurnal Sering Diabaikan?

Banyak penulis langsung mencari jurnal berdasarkan nama, peringkat, atau kecepatan publikasi. Akibatnya, bagian aims and scope hanya dibaca sekilas, bahkan dilewati. Padahal, scope adalah kontrak awal antara penulis dan editor. Ia menjelaskan topik apa yang diterima, pendekatan apa yang diharapkan, dan batas ruang lingkup yang tidak dilayani jurnal tersebut.

Scope bukan sekadar daftar kata kunci. Ia mencerminkan identitas akademik jurnal, termasuk tradisi keilmuan, metode yang dominan, dan jenis kontribusi yang dihargai. Jurnal yang berfokus pada kajian teoretis, misalnya, bisa menolak artikel yang sangat terapan meskipun topiknya sama. Sebaliknya, jurnal terapan bisa menolak artikel yang terlalu konseptual tanpa data empiris.

Membaca scope dengan benar bukan aktivitas administratif, melainkan bagian dari strategi publikasi yang menentukan arah revisi dan peluang diterima.

Langkah 1: Baca Halaman Aims and Scope Secara Utuh

Mulailah dari halaman resmi jurnal, bukan dari deskripsi pihak ketiga. Cari bagian aims and scope, focus and scope, atau about the journal. Bacalah seluruh paragraf, bukan hanya kalimat pertama. Perhatikan tiga hal berikut:

  • Tujuan jurnal: apakah jurnal ini memajukan teori, praktik, kebijakan, atau metode tertentu?
  • Bidang yang dicakup: disiplin ilmu apa yang secara eksplisit disebut?
  • Batas yang dikecualikan: topik atau pendekatan apa yang tidak termasuk ruang lingkup?

Jika jurnal menyatakan diri sebagai wadah kajian interdisipliner, jangan langsung menganggap semua topik diterima. Biasanya ada penekanan pada irisan bidang tertentu, misalnya teknologi dan pendidikan, atau ekonomi dan kebijakan publik.

Langkah 2: Petakan Kata Kunci Scope dengan Kata Kunci Artikel Anda

Setelah membaca scope, tuliskan kata kunci utama yang muncul di sana. Lalu bandingkan dengan kata kunci naskah Anda. Buat tabel sederhana atau daftar dua kolom: kata kunci scope dan kata kunci artikel. Langkah ini membantu melihat tingkat tumpang tindih secara objektif.

Perhatikan bahwa kecocokan tidak harus identik. Yang penting adalah keterkaitan konseptual. Misalnya, scope menyebut pembelajaran berbasis teknologi, sementara artikel Anda membahas pemanfaatan aplikasi digital dalam kelas. Keduanya masih satu keluarga topik. Namun, jika scope berfokus pada kebijakan pendidikan dan artikel Anda murni eksperimen laboratorium, ketidaksesuaiannya lebih serius.

Langkah 3: Periksa Jenis Artikel yang Diterima

Banyak jurnal mencantumkan jenis naskah yang diterima, seperti artikel riset, review, studi kasus, atau catatan teknis. Bacalah ketentuan ini dengan cermat. Artikel Anda bisa saja sesuai secara topik, tetapi tidak sesuai secara format kontribusi.

  • Artikel riset: memerlukan data empiris, metode jelas, dan temuan yang dapat diverifikasi.
  • Review: menuntut sintesis literatur yang sistematis dan kritis, bukan ringkasan biasa.
  • Studi kasus: harus menunjukkan nilai pembelajaran yang dapat digeneralisasi secara terbatas.
  • Catatan teknis: biasanya pendek dan berfokus pada inovasi metodologis atau prosedural.

Jika naskah Anda adalah artikel riset, jangan kirim ke jurnal yang hanya menerima review. Ini kesalahan dasar yang sering terjadi.

Langkah 4: Baca Beberapa Artikel Terbaru di Jurnal Tersebut

Cara paling akurat memahami scope adalah melihat praktiknya. Ambil tiga sampai lima artikel terbaru dari terbitan terkini. Perhatikan topik, metode, dan gaya penulisannya. Ajukan pertanyaan berikut:

  1. Apakah topik artikel-artikel itu mirip dengan topik saya?
  2. Apakah metode yang dominan sejalan dengan metode saya?
  3. Apakah tingkat kedalaman teoretisnya setara dengan naskah saya?
  4. Apakah ada pola pada judul, abstrak, dan struktur yang bisa saya pelajari?

Jika mayoritas artikel membahas isu yang jauh berbeda, kemungkinan besar naskah Anda tidak akan diprioritaskan editor. Sebaliknya, jika ada beberapa artikel yang mirip, Anda bisa merujuknya secara wajar untuk menunjukkan relevansi, tanpa memaksa sitasi yang tidak perlu.

Langkah 5: Cek Pedoman Penulis dan Pernyataan Etika

Scope tidak berdiri sendiri. Ia terkait dengan author guidelines dan kebijakan etika publikasi. Periksa apakah jurnal mensyaratkan hal-hal berikut:

  • Batasan panjang naskah dan format referensi.
  • Kewajiban menyertakan data atau kode penelitian.
  • Pernyataan konflik kepentingan dan persetujuan etik.
  • Kebijakan tentang plagiarisme dan penggunaan kecerdasan artifisial.

Ketidaksesuaian pada tahap ini bisa menyebabkan naskah dikembalikan sebelum masuk review. Jadi, pastikan Anda membaca pedoman secara menyeluruh, bukan hanya bagian template.

Checklist Praktis Sebelum Submit

Gunakan daftar berikut sebagai pemeriksaan akhir. Jika ada satu poin yang belum jelas, tunda pengiriman dan lakukan pengecekan ulang.

  • Saya sudah membaca halaman aims and scope secara utuh.
  • Saya sudah memetakan kata kunci scope dengan kata kunci artikel saya.
  • Saya sudah memastikan jenis artikel saya diterima jurnal tersebut.
  • Saya sudah membaca minimal tiga artikel terbaru di jurnal itu.
  • Saya sudah memeriksa pedoman penulis dan kebijakan etika.
  • Saya sudah menyesuaikan abstrak dan pendahuluan agar relevan dengan scope.
  • Saya sudah meminta pendapat rekan sebidang untuk menilai kecocokannya.

Kesalahan Umum yang Perlu Dihindari

Ada beberapa jebakan yang sering dialami penulis, terutama mahasiswa dan peneliti muda. Pertama, menganggap semua jurnal dalam satu disiplin memiliki scope yang sama. Kedua, hanya melihat judul jurnal tanpa membaca isinya. Ketiga, menyesuaikan naskah secara dangkal, misalnya hanya mengganti judul tanpa memperbaiki kerangka argumen. Keempat, mengabaikan catatan editor pada deskripsi jurnal yang biasanya memberi petunjuk penting tentang fokus saat ini.

Menghindari kesalahan ini akan menghemat waktu Anda dan mengurangi risiko penolakan desk.

Penutup

Membaca scope jurnal adalah keterampilan yang bisa dilatih. Ia bukan sekadar membaca, tetapi membandingkan, memetakan, dan menilai kecocokan secara jujur. Dengan mengikuti langkah-langkah di atas, Anda dapat memilih jurnal yang tepat sejak awal, sehingga energi Anda lebih banyak digunakan untuk memperbaiki kualitas naskah daripada berpindah-pindah jurnal. Artikel ini adalah bagian pertama dari seri lima artikel tentang strategi publikasi. Pada seri berikutnya, pembahasan akan berlanjut ke aspek lain yang sama pentingnya dalam memastikan artikel Anda tidak salah tujuan.

penulisan ilmiahscope jurnalstrategi publikasisubmit artikelpanduan penulis

Artikel terkait