Banyak penulis menghabiskan waktu berbulan-bulan menyusun naskah, tetapi gagal di tahap paling awal: memilih jurnal yang tidak sesuai dengan isi artikel. Akibatnya, naskah ditolak bukan karena kualitasnya buruk, melainkan karena tidak cocok dengan ruang lingkup (scope) jurnal. Artikel seri ketiga dari lima ini akan membahas cara membaca scope jurnal agar artikel tidak salah tujuan dengan pendekatan strategi, contoh, dan praktik terbaik yang bisa langsung Anda terapkan.
Jika pada seri sebelumnya kita membahas pemetaan topik dan pemilihan jurnal secara umum, kali ini fokusnya lebih tajam: bagaimana membaca scope secara kritis, bukan sekadar melihat judul jurnal atau daftar kata kunci.
1. Pahami Apa Itu Scope Jurnal dan Mengapa Sering Diabaikan
Scope jurnal adalah batas ruang lingkup keilmuan, jenis artikel, dan pendekatan metodologis yang diterima oleh suatu jurnal. Scope biasanya tercantum di halaman Aims and Scope, Focus and Scope, atau About the Journal. Sayangnya, banyak penulis hanya membaca bagian ini sekilas, lalu langsung mengirim naskah.
Padahal, scope adalah kontrak tidak tertulis antara penulis dan editor. Jika naskah Anda berada di luar kontrak tersebut, editor akan menolak sebelum masuk ke tahap review substansi. Ini disebut desk rejection, dan sering terjadi pada jurnal bereputasi.
Ada tiga alasan utama mengapa scope sering diabaikan:
- Penulis terburu-buru mengejar tenggat publikasi.
- Penulis menganggap semua jurnal dalam bidang besar yang sama pasti menerima topiknya.
- Penulis hanya membaca judul jurnal, bukan isi scope secara utuh.
Memahami scope bukan sekadar formalitas. Ini adalah strategi awal untuk meningkatkan peluang naskah Anda dibaca secara serius oleh editor.
2. Strategi Membaca Scope Secara Sistematis
Membaca scope jurnal memerlukan pendekatan yang terstruktur. Berikut strategi yang bisa Anda gunakan.
a. Baca Kalimat Pertama dan Terakhir Scope
Kalimat pertama biasanya menyatakan tujuan umum jurnal. Kalimat terakhir sering memuat batasan atau pengecualian. Keduanya adalah kunci untuk memahami arah jurnal.
b. Identifikasi Kata Kunci Inti
Catat kata kunci yang muncul berulang. Misalnya, jika scope menyebut pendidikan dasar, kurikulum, dan asesmen, maka topik tentang pendidikan tinggi mungkin tidak cocok, meskipun masih dalam bidang pendidikan.
c. Perhatikan Jenis Artikel yang Diterima
Beberapa jurnal hanya menerima artikel riset empiris. Yang lain menerima review, studi kasus, atau artikel konseptual. Pastikan jenis naskah Anda sesuai.
d. Cek Pendekatan Metodologis
Ada jurnal yang lebih menyukai pendekatan kuantitatif, ada yang kualitatif, dan ada yang terbuka untuk keduanya. Scope biasanya memberi petunjuk, meskipun tidak selalu eksplisit.
e. Bandingkan dengan Artikel yang Sudah Terbit
Ini langkah paling praktis. Baca 3–5 artikel terbaru di jurnal tersebut. Perhatikan topik, metode, dan gaya penulisannya. Jika naskah Anda mirip dengan artikel yang sudah terbit, peluangnya lebih besar.
Scope jurnal bukan sekadar daftar topik, tetapi cerminan identitas keilmuan dan komunitas pembaca jurnal tersebut.
3. Contoh Praktik: Membaca Scope Dua Jurnal Berbeda
Misalkan Anda menulis artikel tentang penggunaan media sosial dalam pembelajaran bahasa. Anda menemukan dua jurnal:
- Jurnal A berfokus pada teknologi pendidikan secara umum.
- Jurnal B berfokus pada linguistik terapan dan pengajaran bahasa.
Jika scope Jurnal A menyebut inovasi teknologi dalam pembelajaran lintas disiplin, naskah Anda mungkin cocok. Namun, jika Jurnal B menekankan analisis bahasa, sosiolinguistik, dan pemerolehan bahasa, naskah Anda bisa dianggap terlalu teknis-pedagogis.
Contoh lain: artikel tentang kebijakan pendidikan inklusif. Jurnal kebijakan publik mungkin menerima jika sudut pandangnya adalah implementasi kebijakan. Jurnal pendidikan khusus mungkin menerima jika fokusnya pada praktik kelas. Membaca scope membantu Anda menentukan framing yang tepat.
Perhatikan bahwa kesesuaian bukan hanya soal topik, tetapi juga sudut pandang, metode, dan kontribusi yang diharapkan.
4. Praktik Terbaik dan Checklist Sebelum Submit
Berikut praktik terbaik yang bisa Anda lakukan sebelum mengirim naskah.
a. Buat Catatan Scope
Ringkas scope setiap jurnal target dalam 3–5 poin. Ini membantu Anda membandingkan dan memilih dengan objektif.
b. Sesuaikan Abstrak dan Pendahuluan
Gunakan istilah yang selaras dengan scope jurnal. Misalnya, jika jurnal menyebut pembelajaran berbasis proyek, gunakan istilah itu alih-alih istilah lain yang tidak dikenal.
c. Cek Pedoman Penulis
Scope dan author guidelines adalah dua hal berbeda. Keduanya harus dibaca. Scope menentukan kesesuaian, pedoman menentukan format.
d. Minta Pendapat Rekan
Minta rekan sebidang membaca scope dan abstrak Anda. Apakah menurut mereka cocok? Ini langkah sederhana yang sering menyelamatkan naskah dari desk rejection.
e. Gunakan Checklist Berikut
- Apakah topik saya termasuk dalam bidang yang disebut scope?
- Apakah jenis artikel saya diterima?
- Apakah metode saya sesuai dengan kecenderungan jurnal?
- Apakah istilah kunci saya selaras dengan scope?
- Apakah saya sudah membaca minimal 3 artikel terbaru dari jurnal tersebut?
- Apakah abstrak saya mencerminkan kesesuaian dengan scope?
Jika ada jawaban "tidak" pada salah satu poin, pertimbangkan untuk merevisi naskah atau memilih jurnal lain.
5. Kesalahan Umum dan Cara Menghindarinya
Beberapa kesalahan yang sering terjadi:
- Menganggap semua jurnal dalam satu rumpun ilmu sama. Padahal, setiap jurnal punya niche.
- Hanya membaca judul jurnal. Judul tidak selalu mencerminkan scope secara utuh.
- Mengabaikan catatan editor. Beberapa jurnal mencantumkan topik yang tidak diterima.
- Tidak menyesuaikan istilah. Perbedaan istilah bisa membuat naskah terlihat tidak relevan.
Untuk menghindarinya, biasakan membaca scope sebelum menulis, bukan setelah naskah selesai. Dengan begitu, Anda bisa menyesuaikan arah tulisan sejak awal.
Penutup
Cara membaca scope jurnal agar artikel tidak salah tujuan adalah keterampilan strategis yang membedakan penulis yang sering ditolak dan penulis yang naskahnya cepat diproses. Scope bukan sekadar formalitas, melainkan panduan untuk menyelaraskan topik, metode, dan kontribusi Anda dengan komunitas pembaca jurnal.
Mulailah dengan membaca scope secara sistematis, bandingkan dengan artikel terbit, dan gunakan checklist sebelum submit. Dengan praktik ini, Anda tidak hanya menghindari desk rejection, tetapi juga meningkatkan kualitas dan relevansi naskah Anda.
Pada seri berikutnya, kita akan membahas aspek lain dalam strategi publikasi yang melengkapi pemahaman Anda tentang ekosistem jurnal ilmiah.